Kategori
Uncategorized

Usaha Presiden Indonesia Membentuk Dana Abadi

Indonesia sedang membentuk dana abadi atau sovereign wealth fund (SWF) dalam lebih dari satu minggu mendatang. Meskipun detailnya tetap tidak cukup jelas, tampaknya entitas tersebut, yang secara tentatif disebut sebagai Lembaga Pengelola Investasi (LPI), tidak dapat muncul layaknya SWF biasa. Politik dari seluruh dunia memang beragam, apalagi pemilu Amerika Serikat yang baru diadakan beberapa bulan lalu.

Alih-alih mengandalkan penerimaan ekspor komoditas atau surplus neraca pembayaran, pemerintah dapat mendanai LPI melalui APBN dan aset. Pemerintah mulanya dapat menyuntikkan US$1 miliar, dan langsung disusul hingga US$5 miliar.

Berbeda bersama dengan banyak SWF yang kebanyakan memprioritaskan obyek keuangannya sendiri, obyek utama LPI adalah untuk mendorong pembangunan nasional, catat East Asia Forum. Dana selanjutnya dapat memainkan peran mutlak dalam melepas BUMN yang terjerat pinjaman berasal dari tekanan keuangan bersama dengan mengakuisisi aset infrastruktur mereka. Strategi ini dapat memberikan area bagi BUMN untuk lebih memperluas investasi produktif.

SWF juga dapat menarik investasi asing untuk proyek pembangunan. Pejabat Indonesia udah melaksanakan pendekatan kepada calon co-investor berasal dari berbagai negara juga Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, dan Jepang. Pemerintah menargetkan LPI dapat menarik investasi asing hingga US$16 miliar.

Sovereign Wealth Fund Yang Presiden Indonesia Usahakan

SWF baru Indonesia bersama dengan kesuksesan moderat dapat mampir untuk mewakili sektor punya negara yang lebih luas di Indonesia. Namun, meskipun memberikan kontribusi yang nyata bagi pembangunan ekonomi, khususnya di bidang infrastruktur, sektor negara tetap berjuang melawan korupsi dan nepotisme.

Ada masalah penipuan berbentuk agen sbobet serta aksi tipu besar-besaran di perusahaan negara layaknya asuransi Jiwasraya dan dana pensiun Asabri. Selain itu, yang lebih mencemaskan adalah meluasnya jaringan politik-bisnis yang berpusat di lebih kurang Menteri BUMN Erick Thohir.

Meskipun LPI adalah taman bermain yang tidak besar dan tidak nyaman bagi pencari rente, pengamat harus berpikir dua kali dikala pemerintah Indonesia melebih-lebihkan kinerja dan pentingnya SWF-nya, tulis East Asia Forum. Pemerintah mungkin mencoba mengalihkan perhatian berasal dari masalah riil sektor punya negara.

Organisasi masyarakat sipil, aktivis, tempat dan akademisi harus memperkuat peran mereka dalam memelihara kapitalisme negara yang sedang berkembang selalu hidup namun terkendali. Ini dapat meyakinkan BUMN selalu berkontribusi bagi pembangunan Indonesia ke depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *